31 Juli 2009

Tunjukkan Kasih Sayang Selagi Sempat

Dari Galatia 6:10
Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

Ada seorang pengusaha muda yang terburu-buru berangkat kantor karena bangun kesiangan. Sementara pagi itu ia ada meeting dengan rekan bisnis-nya. Karena terburu-buru, ia tidak sempat menikmati sarapan pagi buatan isterinya. Ia lalu memutuskan untuk mampir ke sebuah toko untuk membeli roti sebagai ganti sarapan pagi. Pikirnya, "nanti roti ini di makan di kantor saja". Ketika sedang memilih roti, matanya tertarik mengamati anak kecil berusia kira-kira sepuluh tahun. Anak kecil ini terlihat sedang menawar harga bunga. "Mbak, harga bunga ini berapa?" tanyanya. "Lima puluh ribu rupiah", jawab sang pelayan. Kemudian ia memilih bunga yang lain dan bertanya kembali, "Kalau bunga yang ini berapa?". "Ini lebih mahal lagi, seratus lima puluh ribu rupiah!" jawab sang pelayan. "Kalau yang ini berapa?" tanyanya sambil menunjukkan bunga yang lebih bagus lagi. "Ini harganya dua ratus lima puluh ribu, nak!" jawab sang pelayan.
Anak ini terlihat bingung karena harganya bertambah tinggi, dengan sedih ia bertanya, "Adakah bunga yang harganya lima ribu?". Anak ini ternyata hanya memiliki uang lima ribu rupiah. Belum sempat pelayan toko itu menjawab, pengusaha muda ini segera bertanya kepada sang anak, "Nak, kamu mau beli bunga buat siapa?" Kemudian anak ini menjawab, "Saya mau beli bunga buat mama, karena hari ini mama ulang tahun!" Pengusaha muda ini tersentak, dalam hatinya ia berkata, "Wah... mati aku, aku lupa! Hari ini isteriku ulang tahun. Aku belum mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Kalau sampai aku lupa, ia bisa marah!" Segera ia berkata kepada pelayan toko, "Mbak, Saya beli dua ikat. Satunya buat anak ini. Tolong nanti antar bunga ini ke alamat rumah saya," katanya sambil memberikan kartu namanya. Pengusaha muda itu memberikan bunga tersebut kepada sang anak dan mengucapkan terima kasih sudah mengingatkannya bahwa hari ini ternyata isterinya juga berulang tahun. Anak itu kemudian pergi. Pengusaha ini segera bergegas ke mobilnya dan melanjutkan perjalanan ke kantor. Ketika ia sedang mengendarai mobil, ia melewati anak kecil tadi sedang berjalan. Iapun berhenti dan bertanya apakah ia satu jurusan dengannya. Anak kecil itu mengiyakan dan kemudian masuk ke dalam mobilnya.
Sampai di suatu tempat yang agak sepi anak ini minta turun. Pengusaha muda tersebut heran melihat anak kecil ini masuk melewati sebuah lorong kecil.
Karena penasaran, ia mengikuti sang anak dari belakang. Betapa terkejutnya ia ketika melihat anak kecil ini menaruh bunganya di sebuah gundukan tanah kuning yang masih basah.
Kemudian ia bertanya, "Nak, ini kuburan siapa?" Anak kecil itu kemudian menjawab, "Oom, hari ini mama ulang tahun. Tetapi sayang, mama baru saja meninggal dua hari yang lalu. Oleh sebab itu saya datang ke tempat ini untuk membawakan mama bunga dan mengucapkan selamat ulang tahun." Pengusaha muda begitu tersentak dengan perkataan anak ini.
"Apakah isteriku masih hidup saat ini?" tanyanya dalam hati. Segeralah ia berlari masuk ke mobil, mengendarainya dengan kecepatan tinggi dan menuju ke toko tadi. Dengan terengah-engah ia berkata kepada pelayan toko, "Mana bunga yang tadi saya beli? Bunganya tidak usah dikirim, biar saya saja yang langsung memberikannya ke tangan isteri saya."
Dengan cepat ia menyambar bunga tersebut dan menyetir pulang. Sampai di rumah, ia segera berlari mendapatkan isterinya. "Puji Tuhan! Isteriku masih hidup!" Sambil memberikan bunga ia berkata, "Isteriku, selamat ulang tahun". Kemudian ia mencium dan memeluk isterinya kuat-kuat sambil mengucap syukur kepada Tuhan. Sambil menangis ia berkata, "Terima kasih, Tuhan, Engkau masih memberikan kesempatan kedua kepadaku."
Banyak diantara kita terlalu sibuk dengan aktifitas sehari-hari. Aktifitas dan rutinitas ternyata sudah 'membunuh' perhatian dan momen-momen penting yang harus dinikmati bersama orang-orang yang kita kasihi; orang tua, suami, isteri, anak-anak, dan saudara-saudara kita. Demi mengejar karier, uang dan jabatan bahkan pelayanan banyak orang melupakan keluarga.
Hari ini, kalau kita masih diberi kesempatan untuk hidup semua hanyalah kasih karunia Tuhan. Oleh sebab itu, jangan tunggu sampai besok untuk menunjukkan kasih dan sayang kita kepada orang-orang disekitar kita, terutama orang-orang yang paling dekat dengan kita. Jangan tunggu sampai besok! Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hari esok. Jika kita masih hidup pada hari ini berarti ini kesempatan kedua buat kita.

Maaf, Saya tidak punya waktu

“Maaf, saya tidak punya waktu.” “ Wah, sudah tidak ada waktu lagi.” “Waktunya sudah habis.” “Waktu kita sangat sempit.” “Mana ada waktu lagi?” “Cepat, jangan buang waktu.”
Begitu sering kita menjerit tentang kekurangan waktu. Memang, waktu adalah unik. Kita tidak dapat membeli waktu, kita juga tidak dapat meminjam waktu, menyewa waktu atau meminjam waktu. Tiap orang diberi jatah waktu yang sama, yaitu 24 jam sehari, tidak pernah lebih dan tidak pernah kurang.
Sebenarnya, persoalannya bukan terletak pada kurangnya waktu, melainkan pada cara kita mengatur dan menggunakan waktu. Cara kita mengatur dan menggunakan waktu tergantung dari pandangan kita tentang waktu. Apakah kita menganggap waktu sebagai sesuatu yang berharga sehingga kita menggunakan waktu sebaik mungkin; atau sebaliknya sebagai sesuatu yang kurang berharga sehingga kita menyia-nyiakannya? Banyak faktor yang mempengaruhi pandangan kita tentang waktu dan cara kita menggunakannya.
Sebab itu Alkitab banyak berbicara tentang waktu dengan arti yang berbeda. Dua konsep yang mencolok dalam perjanjian baru adalah Kronos dan Kairos. Kronos adalah waktu dalam arti apa yang dapat diukur dengan jam, hari, tanggal, bulan dan sebagainya, baik sebagai waktu jangka pendek seperti sekejap mata, maupun jangka panjang seperti puluhan tahun. Kronos adalah waktu sebagai deretan peristiwa dan kemungkinan. Dari sini kita mengenal istiloah kronologi. Sebaliknya, Kairos adalah waktu dalam arti yang realistis dan konkrit seperti musim, kesempatan, saat yang ditentukan atau pelaksanaan.
Apapun juga istilahnya, Alkitab memandang waktu sebagai milik Tuhan. Waktu adalah pemberian Tuhan yang diberikan bukan karena kita berhak menerimanya, melainkan pemberian karena anugerah. Sebab itu cara kita memperlakukan dan menggunakan waktu menjadi hal yang sangat penting.
(Kolose 4:5; Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada.). (Mazmur 90:12, Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.). ( Efesus 5:15-16, Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.)
Dari ketiga contoh ayat itu tampak penekanan pada cara menngunakan waktu yang bijak, baik, berdaya guna dan tepat guna. Dalam pengertian ini termasuk juga penggunaan waktu yang seimbang dan utuh, misalnya antara bekerja dan istirahat, Alkitab tidak mengajarkan bahwa bersenang-senang adalah tujuan hidup, sebaliknya Alkitab juga tidak mengajarkan bahwa bersenang-senang adalah dosa.
Penggunaan waktu yang seimbang sebenarnya memperhitungkan keutuhan hakekat manusia. Menurut kisah penciptaan manusia, Tuhan menempatkan manusia di bumi untuk bekerja, namun Tuhan menyediakan waktu untuk istirahat. Sebab itu ucapan tidak ada waktu sebenarnya tidak jujur. Sebetulnya kita mempunyai waktu 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Namun kita tidak menyediakan waktu. Yang perlu ialah itikad untuk menyediakan waktu. Sediakan waktu untuk mengagumi indahnya sekuntum bunga. Sediakan waktu untuk menyapa kawan. Sediakan waktu untuk bermeditasi. Sediakan waktu untuk menikmati keharmonisan rumah tangga. Sediakan waktu untuk …..ah, begitu banyak hal yang indah yang dapat menjadikan hidup kita lebih berarti, asal kita mau dan mampu mengatur waktu. Amin.
(Martin P ~ sumber: Selamat Panjang Umur hal 115 – 117)

30 Juli 2009

Apa Yang Kamu Cari?

“Apa sebenarnya yang kau cari dalam hidup ini?” Pertanyaan ini sungguh menggugah untuk bertanya-tanya tentang tujuan hidup kita. Tetapi sayangnya, tidak banyak dari kita yang mampu menjawab pertanyaan tersebut.
Sebagian besar, hidup hanya dalam gerak yang tetap, monoton dan tak pernah menemukan suatu tujuan yang dapat menyegarkan jiwa. Maka hidup akan berlangsung terus dalam ketidaktahuan arah, hidup akan kehilangan makna jika kita hanya sekedar hidup.
“Apa sebenarnya yang kau cari dalam hidup ini?” “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” demikianlah permulaan dari Alkitab. Allah menciptakan langit dan bumi dan segala isinya. Lalu kita, manusia. TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Tetapi manusia, dengan segala kebebasan dan ambisinya, tidak ingin hanya menjadi tukang kebun saja, maka manusia mulai mencari kebenarannya sendiri. Bahkan biar pun dia harus melanggar Perintah Allah. Akhirnya, dengan segala resiko, dia mulai mencari, dan berbuat segala upaya menuju apa yang dianggapnya sebagai kebenaran sejati. Maka dia pun harus bertanggung-jawab atas segala perbuatannya. Kini, berkelanalah manusia di atas bumi ini.
“Apa sebenarnya yang kau cari dalam hidup ini?” Kebenaran, kata kita. Tetapi apakah kebenaran itu? Bukankah kebenaran itu hanya kepentingan diri kita sendiri? Kita berupaya agar bahagia, senang dan puas menikmati keberadaan kita di dunia ini. Tetapi bahkan para milyader, penguasa dan mereka-mereka yang mampu mewujudkan segala keinginannya sekalipun, tidak pernah merasa puas hidupnya.
Mengapakah demikian? Lalu apa sebenarnya yang kita cari?
Abad demi abad berlalu, dan manusia terus saja melata dalam pencarian yang tak kunjung usai, banyak jawaban yang ditawarkan, banyak upaya yang telah membangun atau menghancurkan kita, tetapi tetap saja kita sering tak tahu apa yang dicari. Ya, kita tak pernah menemukan jawaban itu karena kita adalah sang pemuda kaya yang enggan meninggalkan segala kesenangan hidup kita, kita gagal menemukan makna kebahagiaan itu karena keterikatan kita dengan dunia, dengan lingkungan kita, dengan kesenangan kita.
“Apa sebenarnya yang kau cari dalam hidup ini?” marilah merenungkan pertanyaan itu dalam keheningan hati. Cobalah menyelami makna keberadaan kita di dalam dunia ini. Kesementaraan hidup, ketidak-abadian, maka akan kita temukan suatu ketenangan alami. Suatu makna, bahwa yang kekal tidak akan nampak sebelum kita meninggalkan ketidak-kekalan kehidupan ini. Bahwa kelak, bukan kematian yang akan datang tetapi suatu kelahiran kembali di dunia yang baru, dunia yang abadi. Karena itu, carilah kebenaran yang memerdekakan dan bukan kemerdekaan yang mengikat. Dan kita tahu itu saat Yesus berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” Itulah yang harus kita temukan di dalam hidup ini.

“Tyno”

24 Juli 2009

Tekanan Berbuah Ketekunan

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun” (Yakobus 1:2-4).

Merasa “tertekan” itulah kata yang sering terucap dari mulut banyak orang. Seorang pekerja merasa tertekan oleh atasannya, hidup terasa “tertekan” oleh tuntutan ekonomi yang tinggi. Bahkan, tidak jarang orang yang merasa tertekan akhirnya menjadi stress. Ketika orang tertekan kemudian malah tenggelam di dalam kesedihan dan menangis secara berlebihan. Atau mengeluarkan kata-kata kasar dari mulutnya, sehingga menyebabkan orang lain sakit hati, menjadi egois dan kasar.
Ketika kita hidup di dalam Tuhan, artinya segala sesuatu termasuk kesalahan yang kita lakukan, dapat digunakan-Nya untuk mendatangkan kebaikan. Setiap kali kita tertekan, kita mempunyai kesempatan untuk bertumbuh. Namun, ketahuilah tekanan itu tidak akan pernah berhenti. Kehidupan akan selalu menghadirkan tekanan, stress, dan bencana. Tetapi ketika kita membiarkan kehidupan rohani kita dipelihara oleh Tuhan Yesus, Pokok Anggur yang Benar, dan Bapa, Sang Pengusaha (Yohanes 15:1), maka tekanan itu akan mendatangkan hal-hal yang baru: kata-kata umpatan berubah menjadi kata-kata pujian; air mata kekuatiran berubah menjadi ketenangan dan pengharapan; sikap mau menang sendiri berubah menjadi sikap yang mau berkorban.
Dengan Roh Kudus yang senantiasa mengajar dan mendorong kita untuk lebih dekat kepada Tuhan, maka kita tidak hanya dapat belajar dari kesalahan saja, tetapi kita dapat mengalahkannya. Ketika kita tertekan, kita tidak lagi melukai orang lain atau mempermalukan diri sendiri. Melainkan, hidup akan dipenuhi dengan keharuman dan kesegaran dari buah yang kita hasilkan. Sehingga kita mampu tersenyum sekalipun di dalam tekanan.

~ Tyno ~

22 Juni 2009

Riyaya Undhuh-undhuh


Dalam Ulangan 16 : 1-17 ada 3 hari raya zairah bagi umat pilihan Allah yaitu : Paskah, hari raya 7 minggu dan hari raya pondok daun. Ketiga hai zairah itu harus dirayakan di tempat terpilih untuk memperingati peristiwa bersejarah yang memiliki makna historis-nasionalis dan juga menandai ke-3 musim tahun pertanian.
1) Hari Raya Paskah ( bagi kita tidak asing lagi ). Perayaan ini juga dikaitkan dengan hari Raya Roti tak beragi atau sering disebut hari raya roti penderitaan ). Perayaan Paskah adalah Perayaan pembebasan bangsa Israel dari Mesir. Anak-anak sulung orang Mesir dibunuh, tetapi pintu-pintu rumah orang lbrani " dilewati " (lbrani Pesah berarti: melewati). Peristiwa itu diperingati dengan mengadakan perjamuan Paskah di mana para peserta "makan Paskah" yaitu makan "korban Paskah" atau anak domba Paskah itu (Kel. 12:23-28, 43-51). Dalam Perjanjian Baru Yesus Kristus disebut "anak domba Paskah" (1Kor. 5:7) atau "Anak Domba yang disembelih" (Wahyu 5:6). Untuk Jemaat Purba hari Paskah mendapat isi baru, yaitu perayaan kebangkitan Tuhan.
Sedangkan hari raya roti tak beragi adalah Perayaan selama tujuh hari sehabis Paskah, di mana roti dibakar tanpa memakai ragi sebagai peringatan akan malam pembebasan orang Ibrani dari perbudakannya di Mesir (Kel. 12:14-20, bd. Mat. 26:17).
2) Hari Raya 7 Minggu.
Hari raya ini adalah “ hari raya menuai ( Kel. 23 : 16 ) dan “hari raya hulu hasil “ Bil 28 : 26 28:26
Pada hari hulu hasil, pada waktu kamu mempersembahkan korban sajian baru kepada TUHAN, pada hari raya lepas tujuh minggu, haruslah kamu mengadakan pertemuan kudus, maka tidak boleh kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat.

Dalam merayakan hari raya ini mereka harus membawa persembahan suka rela. Karena 50 hari berlalu di antara persembahan ikatan gandum pada awal paskah; dan Perayaan hari raya 7 minggu ini kita kenal sebagai hari Pentakosta ( Imamat 23 : 16 ). Dalam PB hari raya ini menjadi penting bagi orang kristen karena merupakan hari turunnya Roh Kudus ( Kis. 2 : 14 – 16 )
3) Hari Raya Pondok Daun ( Im. 23 : 42 Kel. 23 : 16 ; 34 : 22 ) disebut “hari Raya Pengumpulan Hasil”. Hari ini menandai akhir tahun pertanian setelah menuai gandum ( Ul. 16 : 9 ) dan setelah selesai pengumpulan hasil tempat pengirikan dan tempat pemerasan ( ay. 13 ). Hal ini mengingatkan bangsa Israel bahwa hidupnya bersandar/ bergantung pada penyelamatan ilahi yang pada akhirnya mengandung makna betapa dalamnya pengampunan dosa ( 2 Taw. 30 : 22 )
Hizkia mengucapkan kata-kata pujian kepada semua orang Lewi yang menunjukkan akal budi yang baik dalam melayani TUHAN. Demikianlah orang memakan makanan perayaan selama tujuh hari, sambil mempersembahkan korban keselamatan dan mengucapkan syukur kepada TUHAN, Allah nenek moyang mereka.
sehingga dengan demikian hari raya ini dibedakan dengan hari raya menuai bagi bangsa kafir.
Selanjutnya Hari Raya Pondok Daun dalam Imamat 23 : 33 – 44, dinyatakan bahwa hari raya ini menyerupai Paskah dan hari raya roti tidak beragi, karena :
a. keduanya merupakan hari raya yang sifatnya historis. Paskah mengingatkan kembali kepada keluaran, pembebasan dari Mesir dan keadaan ketika mereka berangkat dari Mesir ke tanah perjanjian; dan Hari Raya Pondok Daun mengingatkan pengembaraan di padang gurun.
b. Kedua hari raya ini sama-sama meliputi waktu yang lama, hingga 8 hari. Keduanya berhubungan erat dengan hidup sehari-hari dan kebahagiaan umat; yang satu di awal tahun pertanian ( Paskah tgl. 14 bln pertama ); dan yang lain ( pondok Daun ) di penghujungnya ( tanggal 15 bulan ke-7 ). Perbedaan yang menyolok dari kedua hari raya ini ialah pada hari raya Pondok daun tidak ada larangan penggunaan ragi.
Pada Bil. 29 : 12 – 38 diuraikan secara terinci jenis korban yang harus disampaikan kepada Tuhan pada masing-masing hari raya yang ditetapkan oleh Tuhan, apa jenisnya dan berapa banyaknya.
Pada Hari Raya Pondok Daun umat diharuskan hidup di pondok-pondok daun ( terbuat dari ranting kurma dan daun gandarusa ) 7 hari lamanya. Hal ini dimaksudkan keturunan mereka tahu bahwa Tuhan telah menyuruh orang Israel tinggal di pondok-pondok ( ay. 43) ketika Tuhan mengeluarkan mereka dari Mesir. Dan saat merayakan Pondok Daun umat harus bersukaria di hadapan Tuhan ( ay. 40 )
Jadi hari Raya Undhuh-undhuh ( Hari Pentakosta dalam PB ) yang kita rayakan hari ini ada kaitan maknanya dengan hari raya Pondhok Daun yang dirayakan oleh bangsa Israel pada saat itu
Yang penting kita catat dalam melakukan perayaan ini ialah :
1. Hari raya ini haruslah “kamu maklumkan sebagai hari pertemuan kudus”. ( demikian firman Tuhan.
2. hari itu merupakan perhentian penuh, hari yang istimewa yang dikhususkan bagi Tuhan.
3. Hari itu dirayakan dengan sukaria di hadapan Allah.
4. Dalam menghadap Dia tidak dengan tangan hampa, jangan lupa membawa persembahan sesuai dengan berkat yang diberikan Tuhan kepada kita ( Ul. 16 : 16 – 17 )

16:16 Tiga kali setahun setiap orang laki-laki di antaramu harus menghadap hadirat TUHAN, Allahmu, ke tempat yang akan dipilih-Nya, yakni pada hari raya Roti Tidak Beragi, pada hari raya Tujuh Minggu dan pada hari raya Pondok Daun. Janganlah ia menghadap hadirat TUHAN dengan tangan hampa,
16:17 tetapi masing-masing dengan sekedar persembahan, sesuai dengan berkat yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu."


Tahun ini GKJ Purwokerto melaksanakannya pada hari Minggu, 31 Mei 2009 dengan diawal kirab mengarak hasil panen dengan mengitari lingkungan di GKJ Purwokerto.

10 Juni 2009

Ikuti Teladanku

IKUTILAH TELADANKU

Sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. (Yoh 13:15).

Seorang anak kecil tergopoh-gopoh memohon pendetanya untuk datang ke rumah dan mendoakan yang sakit. Maka bergegaslah mereka pergi. Setibanya di tempat yang di tuju, pendeta tersebut menjadi kecewa, sebab ternyata yang sakit itu hanyalah seekor kucing. Pendeta itu agak kesal. Di depan kucing itu berdoalah pendeta itu demikian: “Hai kucing, kalau kamu mau hidup, hiduplah; kalau kamu mau mati, matilah. Amin.”
Anak itu merasa sangat berterima kasih, karena beberapa hari kemudian kucing itu sembuh. Sebagai tanda terima kasih anak itu membuat sebuah gambar. Dihantarnya gambar tersebut ke rumah pendeta. Kebetulan pendeta itu sedang sakit, “bolehkan aku berdoa untuk Bapak?” tawarnya, “Tentu saja boleh”, jawab pendeta. Maka dengan khidmat dan sungguh-sungguh berdoalah anak itu, “Hai pendeta, kalau kamu mau hidup, hiduplah; kalau kamu mau mati, matilah.Amin.”
Saudara, anak adalah seorang pelajar cepat, artinya ia cepat menangkap contoh, setiap anak sebenarnya mudah menangkap contoh dan cepat belajar dari contoh. Bahkan orang dewasa pun mudah kena pengaruh contoh.
Tidak satu anak pun yang lahir dengan langsung mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Yang dilakukan anak kecil adalah menyerap dan meniru apa saja yang dilihat dan didengarnya dari orang dewasa. Segala sesuatu yang yang diperbuat orang dewasa adalah contoh. Dalam hal ini anak lahir ibarat kertas putih dan polos, lingkungannyalah yang mewarnai kertas itu. Jelas di sini pengaruh orang tua luar biasa besarnya.
Ketika anak ini mulai ke sekolah, ia mendapat tokoh panutan yang baru, yaitu guru. Jika guru itu baik dan berwibawa, bukan mustahil anak lebih meniru teladan gurunya ketimbang orangtuanya.
Teladan memang mempunyai daya yang kuat, baik bagi anak kecil maupun orang dewasa, lebih-lenih teladan dari pendidik, pemimpin dan pemuka masyarakat. Teladan memang mudah menular. Apapun yang kita perbuat bisa jadi diamati dan ditiru orang lain. Kalau kita tahu begitu, kita akan berhati-hati supaya yang kita tularkan itu bukan teladan yang buruk.
Yesus meninggalkan teladan sebuah gaya hidup yang luhur. Selama 33 tahun Ia hidup bukan untuk kepentinganNya sendiri, melainkan untuk kepentingan orang banyak. (Yoh 13:15). Begitu sungguh Yesus mempedulikan dan mengupayakan kepentingan orang lain sehingga Ia rela menderita demi kepentingan orang lain. Itulah teladan yang ditinggalkan-Nya. (1 Petrus 2:21).
Menjadi teladan adalah sesuatu yang sulit. Banyak orang berkata, “Turutilah ajaranku.” Atau, “Turutilah nasihatku.” “Turutilah petunjuk dan pengarahanku.” “Turutilah khotbahku.” Tetapi jarang orang berkata, “Turutilah teladanku.” Teladan yang baik tentunya.