22 Juni 2009

Riyaya Undhuh-undhuh


Dalam Ulangan 16 : 1-17 ada 3 hari raya zairah bagi umat pilihan Allah yaitu : Paskah, hari raya 7 minggu dan hari raya pondok daun. Ketiga hai zairah itu harus dirayakan di tempat terpilih untuk memperingati peristiwa bersejarah yang memiliki makna historis-nasionalis dan juga menandai ke-3 musim tahun pertanian.
1) Hari Raya Paskah ( bagi kita tidak asing lagi ). Perayaan ini juga dikaitkan dengan hari Raya Roti tak beragi atau sering disebut hari raya roti penderitaan ). Perayaan Paskah adalah Perayaan pembebasan bangsa Israel dari Mesir. Anak-anak sulung orang Mesir dibunuh, tetapi pintu-pintu rumah orang lbrani " dilewati " (lbrani Pesah berarti: melewati). Peristiwa itu diperingati dengan mengadakan perjamuan Paskah di mana para peserta "makan Paskah" yaitu makan "korban Paskah" atau anak domba Paskah itu (Kel. 12:23-28, 43-51). Dalam Perjanjian Baru Yesus Kristus disebut "anak domba Paskah" (1Kor. 5:7) atau "Anak Domba yang disembelih" (Wahyu 5:6). Untuk Jemaat Purba hari Paskah mendapat isi baru, yaitu perayaan kebangkitan Tuhan.
Sedangkan hari raya roti tak beragi adalah Perayaan selama tujuh hari sehabis Paskah, di mana roti dibakar tanpa memakai ragi sebagai peringatan akan malam pembebasan orang Ibrani dari perbudakannya di Mesir (Kel. 12:14-20, bd. Mat. 26:17).
2) Hari Raya 7 Minggu.
Hari raya ini adalah “ hari raya menuai ( Kel. 23 : 16 ) dan “hari raya hulu hasil “ Bil 28 : 26 28:26
Pada hari hulu hasil, pada waktu kamu mempersembahkan korban sajian baru kepada TUHAN, pada hari raya lepas tujuh minggu, haruslah kamu mengadakan pertemuan kudus, maka tidak boleh kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat.

Dalam merayakan hari raya ini mereka harus membawa persembahan suka rela. Karena 50 hari berlalu di antara persembahan ikatan gandum pada awal paskah; dan Perayaan hari raya 7 minggu ini kita kenal sebagai hari Pentakosta ( Imamat 23 : 16 ). Dalam PB hari raya ini menjadi penting bagi orang kristen karena merupakan hari turunnya Roh Kudus ( Kis. 2 : 14 – 16 )
3) Hari Raya Pondok Daun ( Im. 23 : 42 Kel. 23 : 16 ; 34 : 22 ) disebut “hari Raya Pengumpulan Hasil”. Hari ini menandai akhir tahun pertanian setelah menuai gandum ( Ul. 16 : 9 ) dan setelah selesai pengumpulan hasil tempat pengirikan dan tempat pemerasan ( ay. 13 ). Hal ini mengingatkan bangsa Israel bahwa hidupnya bersandar/ bergantung pada penyelamatan ilahi yang pada akhirnya mengandung makna betapa dalamnya pengampunan dosa ( 2 Taw. 30 : 22 )
Hizkia mengucapkan kata-kata pujian kepada semua orang Lewi yang menunjukkan akal budi yang baik dalam melayani TUHAN. Demikianlah orang memakan makanan perayaan selama tujuh hari, sambil mempersembahkan korban keselamatan dan mengucapkan syukur kepada TUHAN, Allah nenek moyang mereka.
sehingga dengan demikian hari raya ini dibedakan dengan hari raya menuai bagi bangsa kafir.
Selanjutnya Hari Raya Pondok Daun dalam Imamat 23 : 33 – 44, dinyatakan bahwa hari raya ini menyerupai Paskah dan hari raya roti tidak beragi, karena :
a. keduanya merupakan hari raya yang sifatnya historis. Paskah mengingatkan kembali kepada keluaran, pembebasan dari Mesir dan keadaan ketika mereka berangkat dari Mesir ke tanah perjanjian; dan Hari Raya Pondok Daun mengingatkan pengembaraan di padang gurun.
b. Kedua hari raya ini sama-sama meliputi waktu yang lama, hingga 8 hari. Keduanya berhubungan erat dengan hidup sehari-hari dan kebahagiaan umat; yang satu di awal tahun pertanian ( Paskah tgl. 14 bln pertama ); dan yang lain ( pondok Daun ) di penghujungnya ( tanggal 15 bulan ke-7 ). Perbedaan yang menyolok dari kedua hari raya ini ialah pada hari raya Pondok daun tidak ada larangan penggunaan ragi.
Pada Bil. 29 : 12 – 38 diuraikan secara terinci jenis korban yang harus disampaikan kepada Tuhan pada masing-masing hari raya yang ditetapkan oleh Tuhan, apa jenisnya dan berapa banyaknya.
Pada Hari Raya Pondok Daun umat diharuskan hidup di pondok-pondok daun ( terbuat dari ranting kurma dan daun gandarusa ) 7 hari lamanya. Hal ini dimaksudkan keturunan mereka tahu bahwa Tuhan telah menyuruh orang Israel tinggal di pondok-pondok ( ay. 43) ketika Tuhan mengeluarkan mereka dari Mesir. Dan saat merayakan Pondok Daun umat harus bersukaria di hadapan Tuhan ( ay. 40 )
Jadi hari Raya Undhuh-undhuh ( Hari Pentakosta dalam PB ) yang kita rayakan hari ini ada kaitan maknanya dengan hari raya Pondhok Daun yang dirayakan oleh bangsa Israel pada saat itu
Yang penting kita catat dalam melakukan perayaan ini ialah :
1. Hari raya ini haruslah “kamu maklumkan sebagai hari pertemuan kudus”. ( demikian firman Tuhan.
2. hari itu merupakan perhentian penuh, hari yang istimewa yang dikhususkan bagi Tuhan.
3. Hari itu dirayakan dengan sukaria di hadapan Allah.
4. Dalam menghadap Dia tidak dengan tangan hampa, jangan lupa membawa persembahan sesuai dengan berkat yang diberikan Tuhan kepada kita ( Ul. 16 : 16 – 17 )

16:16 Tiga kali setahun setiap orang laki-laki di antaramu harus menghadap hadirat TUHAN, Allahmu, ke tempat yang akan dipilih-Nya, yakni pada hari raya Roti Tidak Beragi, pada hari raya Tujuh Minggu dan pada hari raya Pondok Daun. Janganlah ia menghadap hadirat TUHAN dengan tangan hampa,
16:17 tetapi masing-masing dengan sekedar persembahan, sesuai dengan berkat yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu."


Tahun ini GKJ Purwokerto melaksanakannya pada hari Minggu, 31 Mei 2009 dengan diawal kirab mengarak hasil panen dengan mengitari lingkungan di GKJ Purwokerto.

10 Juni 2009

Ikuti Teladanku

IKUTILAH TELADANKU

Sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. (Yoh 13:15).

Seorang anak kecil tergopoh-gopoh memohon pendetanya untuk datang ke rumah dan mendoakan yang sakit. Maka bergegaslah mereka pergi. Setibanya di tempat yang di tuju, pendeta tersebut menjadi kecewa, sebab ternyata yang sakit itu hanyalah seekor kucing. Pendeta itu agak kesal. Di depan kucing itu berdoalah pendeta itu demikian: “Hai kucing, kalau kamu mau hidup, hiduplah; kalau kamu mau mati, matilah. Amin.”
Anak itu merasa sangat berterima kasih, karena beberapa hari kemudian kucing itu sembuh. Sebagai tanda terima kasih anak itu membuat sebuah gambar. Dihantarnya gambar tersebut ke rumah pendeta. Kebetulan pendeta itu sedang sakit, “bolehkan aku berdoa untuk Bapak?” tawarnya, “Tentu saja boleh”, jawab pendeta. Maka dengan khidmat dan sungguh-sungguh berdoalah anak itu, “Hai pendeta, kalau kamu mau hidup, hiduplah; kalau kamu mau mati, matilah.Amin.”
Saudara, anak adalah seorang pelajar cepat, artinya ia cepat menangkap contoh, setiap anak sebenarnya mudah menangkap contoh dan cepat belajar dari contoh. Bahkan orang dewasa pun mudah kena pengaruh contoh.
Tidak satu anak pun yang lahir dengan langsung mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Yang dilakukan anak kecil adalah menyerap dan meniru apa saja yang dilihat dan didengarnya dari orang dewasa. Segala sesuatu yang yang diperbuat orang dewasa adalah contoh. Dalam hal ini anak lahir ibarat kertas putih dan polos, lingkungannyalah yang mewarnai kertas itu. Jelas di sini pengaruh orang tua luar biasa besarnya.
Ketika anak ini mulai ke sekolah, ia mendapat tokoh panutan yang baru, yaitu guru. Jika guru itu baik dan berwibawa, bukan mustahil anak lebih meniru teladan gurunya ketimbang orangtuanya.
Teladan memang mempunyai daya yang kuat, baik bagi anak kecil maupun orang dewasa, lebih-lenih teladan dari pendidik, pemimpin dan pemuka masyarakat. Teladan memang mudah menular. Apapun yang kita perbuat bisa jadi diamati dan ditiru orang lain. Kalau kita tahu begitu, kita akan berhati-hati supaya yang kita tularkan itu bukan teladan yang buruk.
Yesus meninggalkan teladan sebuah gaya hidup yang luhur. Selama 33 tahun Ia hidup bukan untuk kepentinganNya sendiri, melainkan untuk kepentingan orang banyak. (Yoh 13:15). Begitu sungguh Yesus mempedulikan dan mengupayakan kepentingan orang lain sehingga Ia rela menderita demi kepentingan orang lain. Itulah teladan yang ditinggalkan-Nya. (1 Petrus 2:21).
Menjadi teladan adalah sesuatu yang sulit. Banyak orang berkata, “Turutilah ajaranku.” Atau, “Turutilah nasihatku.” “Turutilah petunjuk dan pengarahanku.” “Turutilah khotbahku.” Tetapi jarang orang berkata, “Turutilah teladanku.” Teladan yang baik tentunya.

28 Maret 2009

CINTA

Pernikahan adalah seperti Sekolah Cinta

Bertahun-tahun yang lalu, saya berdoa kepada Tuhan untuk memberikan saya pasangan, "Engkau tidak memiliki pasangan karena engkau tidak memintanya", Tuhan menjawab.

Tidak hanya saya meminta kepada Tuhan,seraya menjelaskan kriteria pasangan yang saya inginkan. Saya menginginkan pasangan yang baik hati,lembut, mudah mengampuni, hangat, jujur, penuh dengan damai dan sukacita, murah hati, penuh pengertian, pintar, humoris, penuhperhatian. Saya bahkan memberikan kriteria pasangan tersebut secara fisik yang selama ini saya impikan.

Sejalan dengan berlalunya waktu,saya menambahkan daftar kriteria yang saya inginkan dalam pasangan saya. Suatu malam, dalam doa, Tuhan berkata dalam hati saya, "HambaKu, Aku tidak dapat memberikan apa yang engkau inginkan."

Saya bertanya, "Mengapa Tuhan?" dan Ia! menjawab, "Karena Aku adalah Tuhan dan Aku adalah Adil. Aku adalah Kebenaran dan segala yang Aku lakukan adalah benar."

Aku bertanya lagi, "Tuhan, aku tidak mengerti mengapa aku tidak dapat
memperoleh apa yang aku pinta dariMu?"

Jawab Tuhan, "Aku akan menjelaskan kepadamu.
Adalah suatu ketidakadilan dan ketidakbenaran bagiKu untuk memenuhi keinginanmu karena Aku tidak dapat memberikan sesuatu yang bukan seperti engkau. Tidaklah adil bagiKu untukmemberikan seseorang yang penuh dengan cinta dan kasih kepadamu jika terkadang engkau masih kasar; atau memberikan seseorang yang pemurah tetapi engkau masih kejam; atau seseorang yang mudah mengampuni, tetapi engkau sendiri masih suka menyimpan dendam; seseorang yang sensitif, namun engkau sendiri tidak..."

Kemudian Ia berkata kepada saya, "Adalah lebih baik jika Aku memberikan
kepadamu seseorang yang Aku tahu dapat menumbuhkan segala kualitas yang engkau cari selama ini daripada membuat engkau membuang waktu mencari seseorang yang sudah mempunyai semua itu. Pasanganmu akan berasal dari tulangmu dan dagingmu, dan engkau akan melihat dirimu sendiri di dalam dirinya dan kalian berdua akan menjadi satu. Pernikahan adalah seperti sekolah, suatu pendidikan jangka panjang. Pernikahan adalah tempat dimana engkau dan pasanganmu akan saling menyesuaikan diri dan tidak hanya bertujuan untuk menyenangkan hati satu sama lain, tetapi untuk menjadikan kalian manusia yang lebih baik, dan membuat suatu kerjasama yang solid.
Aku tidak memberikan pasangan yang sempurna karena engkau tidak sempurna. Aku memberikanmu seseorang yang dapat bertumbuh bersamamu".

Ini untuk : yang baru saja menikah, yang sudah menikah, yang akan menikah dan yang sedang mencari, khususnya yang sedang mencari.

J I K A........

Jika kamu memancing ikan.....
Setelah ikan itu terikat di mata kail, hendaklah kamu mengambil
Ikan itu.....
Janganlah sesekali kamu lepaskan ia semula ke dalam air begitu saja....
Karena ia akan sakit oleh karena bisanya ketajaman mata kailmu dan mungkin ia akan menderita selagi ia masih hidup.

Begitulah juga setelah kamu memberi banyak pengharapan kepada seseorang... .
Setelah ia mulai menyayangimu hendaklah kamu menjaga hatinya.....
Janganlah sesekali kamu meninggalkannya begitu saja......
Karena ia akan terluka oleh kenangan bersamamu dan mungkin tidak dapat melupakan segalanya selagi dia mengingat... . ..

Jika kamu menadah air biarlah berpada, jangan terlalu mengharap pada
takungannya dan janganlah menganggap ia begitu teguh......cukuplah sekadar keperluanmu. ......
Apabila sekali ia retak......tentu sukar untuk kamu menambalnya semula......
Akhirnya ia dibuang..... .
Sedangkan jika kamu coba memperbaikinya mungkin ia masih dapat dipergunakan lagi.....

Begitu juga jika kamumemiliki seseorang, terimalah seadanya.... . .
Janganlah kamu terlalu mengaguminya dan janganlah kamu menganggapnya Begitu istimewa.... .
Anggaplah ia manusia biasa.
Apabila sekali ia melakukan kesilapan bukan mudah bagi kamu untuk
menerimanya. ....akhirnya kamu kecewa dan meninggalkannya.
Sedangkan jika kamu memaafkannya boleh jadi hubungan kamu akan terus
Hingga ke akhirnya.... .

Jika kamu telah memiliki sepinggan nasi.....yang pasti baik untuk dirimu.
Mengenyangkan. Berkhasiat.
Mengapa kamu berlengah, coba mencari makanan yang lain....
Terlalu ingin mengejar kelezatan.
Kelak, nasi itu akan basi dan kamu tidak boleh memakannya. kamu akan
menyesal.

Begitu juga jika kamu telah bertemu dengan seorang insan....yang membawa kebaikan kepada dirimu. Menyayangimu. Mengasihimu. Mengapa kamu berlengah, dan coba bandingkannya dengan yang lain.
Janganlah terlalu mengejar kesempurnaan.

12 Maret 2009

Berkorban Itu Indah


Berkorban itu indah


I Korintus 13 : 4

Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.

Musim hujan sudah berlangsung dua bulan sehingga di mana-mana pepohonan nampak menghijau. Seekor ulat menyeruak di antara daun-daun hijau yang bergoyang-goyang diterpa angin.

“Apa kabar daun hijau,”katanya.Tersentak daun hijau menoleh ke arah suara yang datang. “Oo,kamu ulat. Badanmu kelihatan kurus dan kecil, mengapa?” tanya daun hijau. “Aku hampir tidak mendapatkan dedaunan untuk makananku. Bisakah engkau membantuku sobat?”kata ulat kecil.

“Tentu…tentu…mendekatlah kemari.” Daun hijau berpikir, ”jika aku memberikan sedikit dari tubuhku ini untuk makanan si ulat, aku akan tetap hijau. Hanya saja aku akan kelihatan berlobang2.Tapi tak apalah. ”

Perlahan-lahan ulat menggerakkan tubuhnya menuju daun hijau. Setelah makan dengan kenyang, ulat berterima kasih kepada daun hijau yang telah merelakan bagian tubuhnya menjadi makanan si ulat. Ketika ulat mengucapkan terima kasih kepada sahabat yang penuh kasih dan pengorbanan itu, ada rasa puas di dalam diri daun hijau. Sekalipun tubuhnya kini berlobang di sana-sini namun ia bahagia bisa melakukan sesuatu bagi ulat kecil yang lapar. Tidak lama berselang ketika musim panas datang daun hijau menjadi kering dan berubah warna. Akhirnya ia jatuh ke tanah,disapu orang dan dibakar.

Apa yang terlalu berarti di hidup kita sehingga kita enggan berkorban sedikit saja bagi sesama?Tokh akhirnya semua yang ada akan binasa. Daun hijau yang baik mewakili orang2 yang masih mempunyai ” hati ” bagi sesamanya. Yang tidak menutup mata ketika sesamanya dalam kesulitan. Yang tidak membelakangi dan seolah tidak mendengar ketika sesamanya berteriak minta tolong. Ia rela melakukan sesuatu untuk kepentingan orang lain dan sejenak mengabaikan kepentingan diri sendiri.

Merelakan kesenangan dan kepentingan diri sendiri bagi sesama memang tidak mudah, tetapi indah. Ketika berkorban, diri kita sendiri menjadi seperti daun hijau yang berlobang namun itu sebenarnya tidak mempengaruhi hidup kita. kita akan tetap hijau, Allah akan tetap memberkati dan memelihara kita. Bagi “daun hijau”, berkorban merupakan suatu hal yang mengesankan dan terasa indah serta memuaskan. Dia bahagia melihat sesamanya bisa tersenyum karena pengorbanan yang ia lakukan. Ia juga melakukannya karena menyadari bahwa ia tidak akan selamanya tinggal sebagai “daun hijau”. Suatu hari ia akan kering dan jatuh.

Demikianlah kehidupan kita, hidup ini hanya sementara kemudian kita akan mati. Itu sebabnya isilah hidup ini dengan perbuatan2 baik ; kasih; pengorbanan ; pengertian ;kesetiaan ; kesabaran dan kerendahan hati.

Jadikanlah berkorban itu sebagai sesuatu yang menyenangkan dan membawa sukacita tersendiri bagi anda. Dalam banyak hal kita bisa berkorban. Mendahulukan kepentingan sesama, melakukan sesuatu bagi mereka, memberikan apa yang kita punyai dan masih banyak lagi pengorbanan yang bisa kita lakukan.

Yang mana yang sering kita lakukan? jadi ulat kecil yang menerima kebaikan orang atau menjadi “daun hijau” yang senang memberi?

Ingatkah kita pada perempuan miskin yang di tengah ketidakpunyaannya justru ia memberi semua yang dipunyainya ? Ingatkah kita akan ” lebih baik memberi daripada menerima ”

Sudahkah pernah anda rasakan kesenangan yang “daun hijau” rasakan pada saat ia memberi daunnya untuk si ulat kecil ? Bisakah anda bedakan rasa yang akan anda rasakan bila: anda punya, maka anda memberi dan anda tidak punya, tetapi anda memberi ??? anda punya dan memberi…… itu sudah biasa, sudah umumnya, sudah tidak heran…tapi anda tidak punya, justru anda memberi lebih…. itu luar biasa,… itu sungguh aneh bagi orang, itulah KASIH….

मेंगापा बेरिबदः?

MENGAPA BERIBADAH ?

Nantikanlah Tuhan! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah Tuhan!

( Mazmur 27:14 )

Mengapa kita beribadah di gereja? Sebagian orang berkata bahwa hari Minggu adalah kesempatan untuk bangun siang, sarapan dengan santai, dan bersendau gurau dengan keluarga. Makan siang dengan teman-teman atau menikmati piknik dan bermain dengan anak-anak. "Jadikan hari Minggu hari yang berbeda dan santai," mungkin demikian pikir sebagian orang, "jadi jangan buang waktumu dengan pergi ke gereja pada hari Minggu!"

Ibadah? Siapa yang butuh ibadah? Kita semua membutuhkannya! Kita butuh ibadah karena kita adalah makhluk-makhluk unik yang segambar dengan Allah. Kita diciptakan untuk melakukan kehendak Allah, dan kita tidak akan dapat mencapai tujuan bila tidak membangun hubungan yang benar dengan Dia. Dengan beribadah kita akan lebih mudah mencapainya, karena kita memfokuskan diri kepada Tuhan.

Tatkala kita bergabung dengan saudara-saudara seiman yang lain di gereja, hati kita "berpindah" dari dunia yang bersifat sementara ke dunia Allah yang bersifat kekal. Menurut William Temple, saat beribadah hati nurani kita dihidupkan oleh kekudusan Allah, pikiran kita diisi penuh oleh kebenaran Allah, imajinasi kita dibersihkan oleh kemuliaan Allah, hati kita dibuka untuk menerima kasih Allah, dan kehendak kita dipersembahkan untuk tujuan Allah. Dengan demikian, kita dibantu untuk mencapai tujuan, yakni menjadi serupa dengan Allah.

Keputusan ada pada diri kita! mau ambil keputusan bahwa setiap hari Minggu akan selalu berada di gereja dengan hati yang siap untuk beribadah kepada Tuhan atau pilihan lain? Tuhan memberkati orang yang dikasihi-Nya. Amin.

06 Maret 2009

fotone inyong

SEPULUH LANGKAH PERSIAPAN PEMIMPIN PA


Pada prinsipnya, seseorang yang mempersiapkan diri untuk memimpin kelompok Pendalaman Alkitab (PA) harus melakukan PA pribadi. Seseorang hanya dapat memberi dari apa yang dimilikinya! Dalam rangka PA pribadi itu, seorang pemimpin PA belajar dan mencoba menafsirkan Alkitab, khususnya bagian atau perikop yang akan dipakai sebagai bahan PA.

Menafsir Alkitab adalah usaha yang kita lakukan untuk memahami berita yang dimaksudkan olehpenulis Alkitab, menghubungkannya dengan dan menemukan berita Firman allah itu bagi situasi masa kini. Sebelum, di tengah-tengah dan sesudah persiapan memimpin PA dilakukan, kita perlu berdoa dan hening agar kita dapat mendengar, menerima dan melaksanakan pesan Alkitab dan agar bukan isi Alkitab yang mengikuti pikiran kita tetapi kita dengan setia mengikuti pesan isi Alkitab. Hanya dengan bimbingan Roh Kudus, kita bisa mengerti makna ayat-ayat Alkitab sebagai Sabda Allah.

Langkah pertama:

MEMBACA

Bagian Alkitab atau perikop yang akan ditafsir perlu dibaca berulang kali (lebih dari 1 kali) sehingga lewat pembacaan itu kita mulai membuka diri dan masuk dalam “suasana” Alkitab. Dengan membaca lebih dari 1 kali, kita akan dapat membaca dengan sungguh-sungguh dan teliti. Lakukanlah dengan tenang dan hayati setiap kata sebagai Sabda yang harus didengarkan dengan hati terbuka. Membaca perlahan-lahan lebih dari satu kali merupakan awal yang baik dalam persiapan PA.

Langkah kedua:

MENGANALISIS TEKS

Setelah membaca teks, kita mencoba menganalisis teks, misalnya tentang:

a) Garis besar isi bacaan ini tentang apa?

b) Bentuknya apa: surat, cerita, nasihat, ajaran, perumpamaan, berita, doa atau nyanyian

c) Untuk cerita dan perumpamaan:

· Siapa tokoh-tokoh yang ada di dalamnya?

· Di mana dan kapan peristiwa itu terjadi?

· Peristiwa pokok apa yang diceritakan?

d) Apa masalah pokok yang dibicarakan?

Langkah ketiga:

MEMBANDINGKAN BEBERAPA TERJEMAHAN

Alkitab dalam bahasa Indonesia yang kita pakai adalah hasil terjemahan dari suatu Tim Penerjemah yang terdiri dari para teolog. Tim ini menggali dari bahasa asli Alkitab (Ibrani – PL; Yunani – PB) dan mempelajari terjemahan lain dalam pelbagai bahasa.

Kalau kita mau membandingkan beberapa terjemahan, kita akan menemukan hal-hal baru dan penting. Terjemahan lain yang mungkin dapat kita lihat adalah:

· Alkitab dalam bahasa Jawa atau bahasa Daerah yang kita kuasai,

· Alkitab dalam bahasa Indonesia sehari-hari (BIS)

· Alkitab dalam bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya yang kita pahami.

Langkah keempat:

MEMBANDINGKAN AYAT-AYAT PARAREL DAN AYAT-AYAT REFERENSI

Dalam keempat kitab Injil, seringkali suatu peristiwa dicatat oleh 2,3 atau 4 penulis Injil. Ayat-ayat yang menceritakan hal yang sama dengan cara/ pendekatan berbeda itu disebut ayat-ayat paralel. Hal ini terutama kita dapati dalam Injil-injil.

Contoh:

Ayat-ayat paralel dari perikop Yohanes 13:36-38 disebutkan di bawah judul yaitu Matius 26:31-35, Markus 14:27-31 dan Lukas 22:31-34.

Lalu, dengan bantuan LAI, kita bisa menemukan juga catatan ayat-ayat referensi, yaitu ayat-ayt yang dianggap ada kaitannya dengan ayat-ayat tertentu. Contoh ayat referensi dari Matius 18:16 adalah Ulangan 19:15. Petunjuk ini dicantumkan di bawah perikop Matius 18:15-20 atau di bawah halaman yang bersangkutan.

Dari perbandingan ini kita juga akan menemukan hal-hal yang baru dan lebih menjelaskan makna dari ayat-ayat yang sedang kita tafsir.

Langkah kelima:

MEMPELAJARI KONTEKS

Paling sedikit ada 3 macam konteks yang perlu kita perhatikan dalam penafsiran ayat-ayat Alkitab,

a) Konteks Alkitab secara keseluruhan

Alkitab itu apa dan bicara tentang apa? Pengertian kita tentang apa Alkitab itu sangat menentukan penafsiran kita. Misalnya, bila Alkitab dianggap sebagai “buku Hukum”, maka kita cenderung menafsirkan ayat-ayat Alkitab secara legalistis dan moralistis. Tetapi kalau Alkitab dilihat sebagai “Buku Kesaksian Cinta Kasih Allah”, maka kita akan menafsirkan ayat-ayat Alkitab dengan selalu mengingat karya cinta kasih Allah bagi seluruh ciptaan-Nya yang nampak seperti “benang merah” dalam seluruh Alkitab.

b) Konteks “jauh” (konteks kitab/ surat tertentu)

Ayat-ayat kita adalah bagian dari Kitab/ Surat tertentu yang mempunyai pesan tertentu pula. Untuk mengetahui pesan itu kita dapat membaca buku Pembimbing yang menerangkan:

· siapa penulis kitab/surat itu

· alamat (yang dikirimi surat itu)

· kapan dan garis besar pesannya

Dalam BIS kita dapat menemukan penjelasan tentang garis besar isi kitab/surat pada awal setiap kitab/surat tetapi yang ada di situ terbatas dan bila kita tidak puas, kita perlu membaca buku pembimbing. Sesudah kita mengetahui konteks kitab/surat, maka ayat-ayat tersebut perlu kita baca lagi sambil mengingat konteks tersebut.

c) Konteks “dekat”

Yang dimaksud dengan konteks “dekat” adalah ayat-ayat sebelum dan sesudah perikop kita. Kita harus ingat bahwa sebenarnya dahulu tidak ada pembagian pasal dan ayat dalam Alkitab. Jadi, ada kemungkinan besar ayat-ayat sebelum dan sesudahnya merupakan suatu kesatuan atau suatu kesinambungan yang berkaitan satu sama lain. Kita akan memperoleh pengertian yang benar apabila konteks “dekat” ini kita perhatikan. Pencomotan ayat-ayat dan kemudian ditafsirkan begitu saja lepas dari konteks “dekat”-nya akan “memperkosa” ayat-ayat itu untuk keinginan dan kepentingan diri kita sendiri atau untuk mendukung pendapat kita sendiri.

Langkah keenam:

MEMPELAJARI BUKU PEMBIMBING DAN TAFSIR

Kita perlu mengakui dan menghargai hasil pergumulan dan studi orang-orang beriman yang diberi karunia dan tanggungjawab yang besar dalam menafsir. Hasil pergumulan dan penafsiran mereka perlu dimanfaatkan (namun baru dalma langkah keenam ini) untuk memperkaya usaha penafsiran kita sendiri. Ambillah hal-hal baru yang belum kita dapatkan dan catatlah. Kita harus berusaha agar kita tidak ikut begitu saja pendapat para penulis buku tafsir tersebut, namun kita memanfaatkannya dengan rasa syukur.

Untuk mengetahui latar belakang Alkitab kita dapat membaca buku-buku seperti: Pembimbing ke dalam Perjanjian Lama dari Dr. D.C. Mulder; Theologia Perjanjian Lama dari Dr. D. Barth; Pengantar kepada Perjanjian Lama dari Dr. J. Blommendaal; Pembimbing ke dalam Perjanjian Baru dari Drs. M.E. Duyverman; Memperkenalkan Theologia Perjanjian Baru dari A.M. Hunter; Satu Injil Tiga Pekabar dari Drs. B.F. Drewes, dan lain-lain. Sedangkan buku-buku tafsir, dapat kita manfaatkan untuk mencari penjelasan tentang suatu ayat atau kata yang sulit dimengerti. Kita berharap penulis buku tafsir yang memang pakar di bidang penafsiran Alkitab sudah menemukan jawaban atas kesulitan yang sedang kita hadapi.

Langkah ketujuh:

MENYUSUN TAFSIRAN

Dari hasil langkah 1-6, kita dapat mencatat apa yang dipesankan kepada pembaca saat itu. Tafsiran ini bisa dilakukan ayat per ayat atau beberapa ayat digabung atau keseluruhan perikop. Inilah langkah puncak di mana semua hal yang kita ketahui dan kita pahami tentang ayat-ayat tersebut kita tuangkan menjadi suatu tafsiran yang makin memperjelas pesan Alkitab.

Langkah kedelapan:

MEMBUAT PENGENAAN

Kalau dalam langkah ketujuh kita masih harus membatasi diri pada “pesan untuk pembaca saat itu”, maka dalam langkah kedelapan ini kita berusaha dan memberanikan diri untuk menemukan pesan untuk pembaca masa kini. Penerapan ini tidak boleh lepas dari hasil penafsiran dalam langkah ketujuh. Langkah ini perlu diawali dengan hening, berdiam diri dan merenungkan apa kehendak Tuhan atau berita yang kita peroleh dari teks Alkitab bagi kehidupan menusia dan jemaat pada masa kini. Sangat penting untuk menjadikan diri kita sendiri sebagai alamat pertama dari berita atau pesan Alkitab itu. Pertanyaan pokok yang dapat membantu kita untuk menemukan pengenaan teks bagi kehidupan masa kini adalah:

· Menurut teks tadi, bagaimana pola hidup manusia dan atau orang beriman itu?

· Bagaimana seharusnya orang Kristen berpikir dan berbicara tentang Allah, manusia dan dunia ini?

· Bagaimana seharusnya orang Kristen bersikap dan bertindak dalam hidup sehari-hari?

Jadi, yang dimaksud dengan “pola” di sini bukan dalam pengertian “pola” atau “patron” atau “model” dalam dunia jahit-menjahit yang sudah tersedia tinggal ditiru begitu saja. Pola hidup adalah prinsip-prinsip kehidupan yang didasarkan atas pemahaman kita terhadap Allah dan bagaimana menjadi manusia yang baik. Pola hidup ini akan menjadi “spirit” bagi keseluruhan hidup manusia dan atau orang Kristen.

Langkah kesembilan:

MERUMUSKAN TUJUAN PA

Dalam sebuah PA tidak mungkin semua relevansi teks Alkitab dapat dicapai. Oleh karena itu, pemimpin PA perlu menentukan relevansi apa yang sesuai dengan kebutuhan kelompok atau jemaat pada saat ini. Kemudian relevansi itu dirumuskan menjadi tujuan PA. Dalam merumuskan tujuan, yang menjadi pusat perhatian bukanlah pemimpin PA melainkan para peserta, sehingga rumusan dapat ditulis: setelah mengikuti PA ini, para peserta memahami/ menyadari/ mengalami/ mampu ……. dst.

Langkah kesepuluh:

MEMILIH METODE PA DAN MEMPERSIAPKANNYA

Setelah tujuan dirumuskan, maka barulah metode dipilih sesuai dengan tujuan. Dalam hal ini kita harus selalu ingat bahwa metode adalah sarana saja demi tercapainya tujuan. Tujuan tidak boleh dikorbankan demi suatu metode yang kita anggap menarik.

Kemudian dengan mempelajari uraian atau bab tentang metode PA atau dengan kreativitas sendiri untuk menciptakan metode PA yang “baru”, pemimpin PA perlu mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk memakai metode tersebut. Yang pertama-tama perlu dibuat adalah susunan langkah-langkah dan pembagian waktu. Sesudah itu, semua perlengkapan yang diperlukan harus dipersiapkan dengan baik. Termasuk dalam persiapan ini, perlu sekali memperhatikan bagaimana ruang yang akan dipakai agar mendukung pelaksanaan PA dengan metode yang sudah kita pilih.